Kisah Seorang Pelajar

Kisah Seorang Pelajar
Selamat Datang Di Blog Kami

Kamis, 27 September 2012

Story Problem in Realy Life



          Berawal dari seseorang cowok yang bernama Adnan, dia anak ke-2 dari dua bersaudara dia memliki kakak cowok yang bernama Argas. Adnan adalah seorang ABG(anak baru gede) yang labil atau seorang anak yang sedang depresi. Dia labil atau depresi dikarenakan di keluarganya sedang ada masalah, masalahnya itu ada pada kakaknya yang positif sebagai pemakai atau pengonsumsi narkoba. Orang tuanya pun malah saling main salah-salahan karena anak pertama mereka si Argas atau kakaknya Adnan yang mengonsumsi narkoba. Karena Adnan sudah pusing dan tidak kuat dengan situasi atau masalah yang muncul di keluarganya saat itu, Adnan pun memiliki fikiran atau niat untuk pergi atau kabur dari rumahnya. Tetapi Adnan belum memikirkan atau bingung mau kabur atau minggat kemana, karena teman-temannya tidak ada yang mau memberi tumpangan dia tinggal sementara. Dan pada akhirnya karena dia galau dan bingung mau kemana, dia pun ujug-ujug pergi ke stasiun kereta. Di sana pun ia hanya termenung terdiam kebingungan. Sehingga datanglah kereta dan berhenti di stasiun itu, tanpa sadar ia langsung menaiki atau menumpangi dan masuk ke kereta itu. Di dalam kereta ia pun langsung memilih tempat duduk. Di dalam perjalanan ia tertidur dan pada saat ia terbangun, ia baru menyadarinya bahwa ia berada di dalam kereta yang entah tujuannya kemana. Ia pun menanyakan tujuan kereta yang ditumpanginya  kepada seorang lelaki setengah baya yang berada tepat di sebelah dia, dan ternyata kereta yang ditumpanginya itu bertujuan ke Solo, Jawa Timur. Setalah ia mengetahui bahwa kereta yang ditumpanginya bertujuan ke Solo. Ia pun panik dan kebingungan setengah mati, karena ia tidak ada persiapan apa-apa. Ia juga hanya membawa uang seadanya dan beberapa pakaian saja. Pada akhirnya selama perjalanan ia hanya bisa termenung dan termenung atau bahasa kerennya galau.
          Sesampai di stasiun Solo, ia kebingungan lagi mau kemana. Pada akhirnya ia berkeliling-keliling saja ke Kraton Solo, ke Pasar Klewer untuk membeli makanan, sampai-sampai taman makam pahlawan Solo pun ia datangi karena saking bingungnya mau kemana tanpa tujuan. Tak terasa matahari pun sudah terbenam dan sore berganti petang, azan magrib pun telah berkumandang dan ia bergegas ke Masjid Agung Solo. Ia juga menginap semalaman di Masjid Agung Solo itu. Pagi hari pun tiba dan ia memutuskan untuk kembali pulang ke rumah. Pada saat ia merogoh kantongnya, dia kaget secara tidak sadar uang yang dia miliki sudah menipis. Dia pun bingung ingin pulang bagaimana. Akhirnya ia nekat untuk mencari kerja serabutan guna mencari uang tambahan untuk ia pulang. Setelah lelah ia mencari kerja serabutan akhirnya pada siang hari ia pun mendapatkan pekerjaan steam mobil yang penghasilannya dalam beberapa mobil lumayanlah guna nambahin uang untuk ia pulang.
          Sesampai dia rasa uangnya sudah terkumpul dan cukup untuk dia makan dan kembali ke Jakarta, ia pun berenti bekerja dan berniat untuk segera pulang. Dia berada di Solo sekitar 2 minggu lebih, dan dia juga sengaja tidak membawa alat komunikasi supaya tidak ada yang bisa menghubungi dia. Ke esokan pagi hari setelah ia berhenti bekerja, ia bergegas ke stasiun Solo. Dan ia pun langsung kembali ke Jakarta menumpangi kereta sepur menuju stasiun Gambir. Setelah menghabiskan beberapa jam perjalan menuju Jakarta, akhirnya sampailah ia di Stasiun Gambir dengan selamat sehat wal’afiat. Ia pun sangat senang sekali bisa menghirup udara Jakarta yang sangat khas lagi, dan ia berharap situasi di rumahnya sudah mendingan dari sebelumnya.
          Setelah keluar dari stasiun ia pun langsung menumpangi taksi menuju rumahnya. Sesampai tepat di depan rumah, dia kaget dan shock berat mau pingsan karena di depan rumah dia sudah ramai banyak orang dan terpasang bendera kuning tepat di tiang rumahnya. Pas dia masuk ke dalam rumahnya dia melihat seseorang setengah baya dan seorang anak muda di pojok dalam rumah dia sudah terbujur kaku dan terbungkus kain kafan putih bersih. Ternyata itu adalah ayahnya dan kakak yang mengonsumsi narkoba sudah wafat. Dan tinggallah seorang wanita yaitu ibundanya yang sedang menangis atas kepergian ayah dan kakaknya itu. Adnan pun bingung harus berbuat apa. Ia pun merasa sangat bersalah karena sudah kabur ninggalin keluarganya dan dia pun pingsan di tempat saking kagetnya atas apa yang telah ia lihat setiba di rumah. Jadi, apa pun yang terjadi atau masalah apa pun yang kita hadapi pasti ada jalan keluar. Tidak dengan cara pergi dari rumah tanpa sepengetahuan keluarga atau orang terdekat lainnya.

..~..~tamat~....~